HIMA PSIK Akan Gelar Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif

HIMPUNAN Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (HIMA-PSIK) Universitas Malahayati, Bandar Lampung akan gelar Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif pada 01 Mei 2016. Palliatif care adalah pendekatan multidisiplin dalam memberikan perawatan yang konfrehensif pada pasien-pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa (Witjaksono, MA, 2007).

Dengan tema “Upaya Peningkatan Kualitas Hidup pada Gangguan Kanker Reproduksi”, acara yang dimeriahkan seorang ahli palliatif dari Rumah Sakit Kanker Dharmis ini akan berlangsung pada:

Hari/ Tanggal   : Minggu, 01 Mei 2016
Tempat              : Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati
Fasilitas             :Sertifikat PPNI 2 SKP dan IBI 1 SKP, Seminar Kit, Big Snack dan Full Doorprize dengan hadiah utama Smartphone Samsung.

Dengan investasi Rp 100.000,- untuk Perawat dan Umum sedangkan untuk Bidan hanya Rp 75.000,-. Setelah 14 April harga tiket naik 20%.

Menurut definisi WHO, perawatan palliatif adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka menghadapi masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan bantuan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian sempurna dan perawatan rasa sakit dan masalah lain, fisik, psikologis dan spiritual (WHO, 2002).

Pemateri Seminar dan Workshop:

  1. dr Maria Witjaksono MPALLC PC Physician dengan materi “Konsep Perawatan Palliatif, Trend dan Issue serta Peluang Homecare pada Pasien Kanker”.
  2. dr Dino Rinaldy Sp OG (K) Onk dengan materi “Treatment Terkini Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Kanker Serviks”.
  3. Aryanti Wardiyah Ns MKep Sp MAt dengan materi “Tinjauan Aspek Seksualitas pada Pasien Kanker Reproduksi” dan materi workshop tentang “Management Terapi Palliatif pada Pasien Gangguan Kanker Reproduksi”.

Pendaftaran bisa dilakuakan via transfer ke Rekening BNI 0361827542 atas nama Mukhbit Agung Wibowo (wajib konfirmasi langsung). Segera ikuti dan daftarkan diri Anda sekarang juga di seminar dan workshop Palliatif terupdate dengan narasumber ahli! Pasti seru dan dapat ilmu yang bermanfaat.

Contact person:
Fajar 0813 7361 5778
Abi 0857 6688 7122

1458545900012

Florence Nightingale; “Lady With The Lamp” Tokoh Keperawatan Dunia

FLORENCE Nightingale adalah wanita berkebangsaan Inggris yang lahir di Firenze, Italia pada tanggal 12 Mei 1820. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang berada dan terpandang di London. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris. Saat kecil ia tinggal di Lea Hurst, Derbyshire, London. Ayahnya, William Nightingale seorang tuan tanah, dan ibunya adalah keturunan ningrat.

Pada zaman itu, seorang wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktivitasnya cenderung glamour dan malas. Namun Florence remaja tidak begitu, meski ia seorang putri tuan tanah yang kaya raya, justru ia lebih senang keluar rumah dan membantu warga sekitar yang membutuhkan.

Hingga pada usia ke 26 ia mengunjungi Kaiserswerth, Jerman, dan mengenal lebih jauh tentang rumah sakit modern pionir yang dipelopori oleh Pendeta Theodor Fliedner dan istrinya dan dikelola oleh biarawati Lutheran. Disinilah titik balik hidupnya, ia mulai jatuh cinta dengan kegiatan sosial keperawatan karen terpesona dengan komitmen yang ia lihat pada perawat yang masa itu masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Akhirnya, meski ditentang keluarga ia memberanikan diri untuk mengikuti pelatihan di RS Kaiserswerth Jerman.

Lalu pada 12 Agustus 1853, Folrence kembali ke Inggris dan mendapat pekerjaan sebagai pengawas bagian keperawatan di Institute for the Care of Sick Gentlewomen, sebuah rumah sakit kecil yang terletak di Upper Harley Street, London, posisi yang ia tekuni hingga bulan Oktober 1854. Tahun Setahun setelah kembalinya ia ke Inggris, berkobarlah peperangan di Semenanjung Krimea. Tentara Inggris bersama tentara Perancis berhadapan dengan tentara Rusia. Banyak prajurit yang gugur dalam pertempuran, namun yang lebih menyedihkan lagi adalah tidak adanya perawatan untuk para prajurit yang sakit dan luka-luka. Sampai akhirnya wartawan harian TIME menulis tulisan bertajuk “Apakah Inggris tidak memiliki wanita yang mau mengabdikan dirinya dalam melakukan pekerjaan kemanusiaan yang mulia ini?”.

Florence memutuskan secepatnya berangkat ke krimea untuk membantu tentara-tentara Inggris, dengan menggunakan pengaruh politiknya sebagai wanita bangsawan, Florence dan teman-teman sejawatnya dengan mudah mendapatkan izin untuk berangkat ke Krimea. Sesampainya disana Florence melihat bahwa penyakit dan tingginya angka kematian tentara Inggris adalah karena higienitas yang buruk, karena itu Florence menginstruksikan agar barak tentara dan bangsal rumah sakit harus benar-benar dibersihkan, sinar matahari dan udara segar juga harus dapat masuk. Dalam hitungan bulan, angka kematian tentara Inggris menurun drastis. Florence adalah pencetus higienitas dan sterilitas di rumah sakit dan metodenya ini sampai sekarang masih dipakai oleh rumah sakit diseluruh dunia.

Florence Nightingale mendokumentasikan hasil dari perawatannya selama perang Krimea dan menggunakannya sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya (Woodham-Smith, 1951). Melalui pekerjaannya ini, Florence Nightingale telah meletakkan dasar dari praktik berbasis bukti modern (modern evidence-based practice). Sekembalinya Florence ke Inggris, dia dielu-elukan bak pahlawan dan sebagai balasan atas pekerjaannya yang baik, masyarakat Inggris mengumpulkan dana dan memberikan sejumlah uang kepada Florence yang akhirnya digunakan untuk membangun Sekolah Keperawatan Nightingale (Nightingale School of Nursing) di RS St, Thomas, London.

Berkat perjuangan dan kegigihannya dalam dunia keperawatan, ia dianugrahi gelar pahlawan oleh kerjaan Inggris. Bahkan, banyak sekolah keperawatan di dunia yang masih menceritakan kisah hidup Florence saat upacara Capping Day setiap tahunnya.

|Sumber: wikipedia dan http://bruderleo.blogspot.co.id/

 

Sambutan Dessy Hermawan: Menjadi Seorang Perawat Itu Harus Pangilan Dari Hati

KELUARGA Mahasiswa Akademi Keperawatan (KEMA-Akper) Universitas Malahayati menggelar Peresmian Penggunaan Pakaian Seragam dan Ucap Janji Mahasiswa di Tax Center pada 29 Maret 2016. Kegiatan yang ditujukan untuk Diploma III Keperawatan  ini mengusung tema “Melalui Angkat Janji, Kita Tingkatkan Keperawatan yang Profesional”.

“Semoga acara pada hari ini berjalan dengan lancar hingga siang nanti. Untuk angkatan tingkat 1 jadikan hari ini, hari yang bersejarah untuk berubah karena sudah memasuki dunia keperawatan. Sebelumnya hanya belajar dalam kelas sekarang sudah memasuki dunia rumah sakit yang jauh berbeda dengan di kelas,” Kata dr Dessy Hermawan S Kep Ns MKes, Wakil Rektor III.

Ia juga menjelaskan untuk prodi keperawatan, pengetahuan yang bersumber dari buku saja tidaklah cukup. Dibutuhkan juga keterampilan dalam penanganan dan interaksi kepada pasien maupu keluarga pasien. Tak  hanya itu, menjadi seorang perawat itu harus pangilan dari hati, karena balasannya tak hanya di dunia melainkan juga di akhirat.

“Jika dikelas kalian akan bertemu dengan dosen sedangkan dirumah sakit kalian akan bertemu orang yang sedang sakit dan keluarga yang cemas. Hal ini dibutuhkan penanganan yang khusus. Dalam pembacaan janji harap dihayati dan dihafalkan sebagaimana nanti kita belajar bukan hanya dengan buku, tetapi juga pasien. Hal ini sangat dibutuhkan skill yang luar biasa,” katanya menambahkan.

HIMA PSIK Kembali Gelar Seminar dan Workshop Kesehatan pada 01 Mei 2016

HIMPUNAN Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (HIMA-PSIK) Universitas Malahayati, Bandar Lampung kembali gelar Seminar dan Workshop Kesehatan. Acara ini membahas mengenai kesehatan Palliatif yang akan digelar pada 01 Mei 2016. Palliatif care adalah pendekatan multidisiplin dalam memberikan perawatan yang konfrehensif pada pasien-pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa (Witjaksono, MA, 2007).

Dengan tema “Upaya Peningkatan Kualitas Hidup pada Gangguan Kanker Reproduksi” acara ini dimeriahkan seorang ahli palliatif dari Rumah Sakit Kanker Dharmis. Acara yang sebelumnya akan dilaksanakan 24 April 2016 ini diundur pada 01 Mei 2016, dikarenakan ada kendala teknis. Berikut jadwal Seminar dan Workshop Palliatif terbaru:

Hari/ Tanggal   : Minggu, 01 Mei 2016
Tempat              : Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati
Fasilitas             :Sertifikat PPNI 2 SKP dan IBI 1 SKP, Seminar Kit, Big Snack dan Full Doorprize dengan hadiah utama Smartphone Samsung.

Dengan investasi Rp 100.000,- untuk Perawat dan Umum sedangkan untuk Bidan hanya Rp 75.000,-. Setelah 14 April harga tiket naik 20%.

Menurut definisi WHO, perawatan palliatif adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka menghadapi masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan bantuan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian sempurna dan perawatan rasa sakit dan masalah lain, fisik, psikologis dan spiritual (WHO, 2002).

Pemateri Seminar dan Workshop:

  1. dr Maria Witjaksono MPALLC PC Physician dengan materi “Konsep Perawatan Palliatif, Trend dan Issue serta Peluang Homecare pada Pasien Kanker”.
  2. dr Dino Rinaldy Sp OG (K) Onk dengan materi “Treatment Terkini Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Kanker Serviks”.
  3. Aryanti Wardiyah Ns MKep Sp MAt dengan materi “Tinjauan Aspek Seksualitas pada Pasien Kanker Reproduksi” dan materi workshop tentang “Management Terapi Palliatif pada Pasien Gangguan Kanker Reproduksi”.

Pendaftaran bisa dilakuakan via transfer ke Rekening BNI 0361827542 atas nama Mukhbit Agung Wibowo (wajib konfirmasi langsung). Segera ikuti dan daftarkan diri Anda sekarang juga di seminar dan workshop Palliatif terupdate dengan narasumber ahli! Pasti seru dan dapat ilmu yang bermanfaat.

Daftar Segera di Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif HIMA PSIK

DAFTAR segera di Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif. Palliatif care adalah pendekatan multidisiplin dalam memberikan perawatan yang konfrehensif pada pasien-pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa (Witjaksono, MA, 2007). Acara ini dipersembahkan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Malahayati, Bandar Lampung.

Dengan tema “Upaya Peningkatan Kualitas Hidup pada Gangguan Kanker Reproduksi” acara ini dimeriahkan seorang ahli palliatif dari Rumah Sakit Kanker Dharmis ini akan berlangsung pada:

Hari/ Tanggal   : Minggu, 01 Mei 2016
Tempat              : Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati
Fasilitas             :Sertifikat PPNI 2 SKP dan IBI 1 SKP, Seminar Kit, Big Snack dan Full Doorprize dengan hadiah utama Smartphone Samsung.

Dengan investasi Rp 100.000,- untuk Perawat dan Umum sedangkan untuk Bidan hanya Rp 75.000,-. Setelah 14 April harga tiket naik 20%.

Menurut definisi WHO, perawatan palliatif adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka menghadapi masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan bantuan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian sempurna dan perawatan rasa sakit dan masalah lain, fisik, psikologis dan spiritual (WHO, 2002).

Pemateri Seminar dan Workshop:

  1. dr Maria Witjaksono MPALLC PC Physician dengan materi “Konsep Perawatan Palliatif, Trend dan Issue serta Peluang Homecare pada Pasien Kanker”.
  2. dr Dino Rinaldy Sp OG (K) Onk dengan materi “Treatment Terkini Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Kanker Serviks”.
  3. Aryanti Wardiyah Ns MKep Sp MAt dengan materi “Tinjauan Aspek Seksualitas pada Pasien Kanker Reproduksi” dan materi workshop tentang “Management Terapi Palliatif pada Pasien Gangguan Kanker Reproduksi”.

Pendaftaran bisa dilakuakan via transfer ke Rekening BNI 0361827542 atas nama Mukhbit Agung Wibowo (wajib konfirmasi langsung). Segera ikuti dan daftarkan diri Anda sekarang juga di seminar dan workshop Palliatif terupdate dengan narasumber ahli! Pasti seru dan dapat ilmu yang bermanfaat.

Contact person:
Fajar 0813 7361 5778
Abi 0857 6688 7122

1458545900012

Kesan Dokter Lula Kamal Menjadi Narasumber Seminar di Graha Bintang Malahayati

DOKTER Lula Kamal, menjadi narasumber yang dinantikan kehadirannya pada seminar BBLR dan Metode Perawatan Kangguru hari ini, 27 Maret 2015 di Graha Bintang Malahayati. Ini adalah kali kedua ia hadir untuk mengisi seminar di Graha Bintang. Sebelumnya ia mengisi materi tentang pendidikan seks usia dini, kali ini ia memberikan materi seputar BBLR. Sama seperti peserta seminar, ia pun sangat excited dengan antusiasme peserta saat mengikuti seminar.

“Saya senang ya, saya pikir saya akan bertemu hanya dengan mahasiswa kebidanan atau keperawatan saja. Ternyata orang tua, para bidan yang sudah praktik juga hadir. Antusiasme mereka sangat luar biasa. Sudah jadi bidan tapi masih semangat mencari ilmu. Itu jauh lebih bagus, karena mereka sudah praktik langsung, jadi bisa diaplikasikan ilmu yang diperoleh hari ini,” kata Lula Kamal saat berbincang dengan malahayati.ac.id usai memberikan materi.

Bicara soal Malahayati, Ia mengatakan perkembangan Malahayati selama 2 tahun terakhir ini cukup signifikan. Lebih rapi dan semakin berkembang dari segi fasilitas dan mahasiswanya. “Saya belum sempat keliling di Malahayati, tapi dua tahun terakhir ini terlihat lebih rapi ya. Saya dengar juga Kebidanan dan Kedokteran Malahayati yang terbesar. Perkembangan fasilitas dan segala aspek yang mendukung juga harus dijaga dan dikembangkan,” ujar Lula.

Ia berharap Seiring dengan semakin besar dan semakin bagusnya fasilitas yang dimiliki, Universitas Malahayati terus menjaga konsistensinya dan terus meningkatkan kualitas yang dimilikinya.[]

 

HIMA PSIK Akan Gelar Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif

HIMPUNAN Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Malahayati mempersembahkan Seminar dan Workshop Kesehatan Palliatif. Dengan tema “Upaya Peningkatan Kualitas Hidup pada Gangguan Kanker Reproduksi” acara yang dimeriahkan seorang ahli palliatif dari Rumah Sakit Kanker Dharmis ini akan berlangsung pada:

Hari/ Tanggal   : Minggu, 01 Mei 2016
Tempat              : Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati
Fasilitas             :Sertifikat PPNI 2 SKP dan IBI 1 SKP, Seminar Kit, Big Snack dan Full Doorprize dengan hadiah utama Smartphone Samsung.

Dengan investasi Rp 100.000,- untuk Perawat dan Umum sedangkan untuk Bidan hanya Rp 75.000,-. Setelah 14 April harga tiket naik 20%.

Palliatif care adalah pendekatan multidisiplin dalam memberikan perawatan yang konfrehensif pada pasien-pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa (Witjaksono, MA, 2007). Menurut definisi WHO, perawatan palliatif adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka menghadapi masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam kehidupan, melalui pencegahan dan bantuan penderitaan melalui identifikasi awal dan penilaian sempurna dan perawatan rasa sakit dan masalah lain, fisik, psikologis dan spiritual (WHO, 2002).

Pemateri Seminar dan Workshop:

  1. dr Maria Witjaksono MPALLC PC Physician dengan materi “Konsep Perawatan Palliatif, Trend dan Issue serta Peluang Homecare pada Pasien Kanker”.
  2. dr Dino Rinaldy Sp OG (K) Onk dengan materi “Treatment Terkini Pencegahan dan Pengobatan Gangguan Kanker Serviks”.
  3. Aryanti Wardiyah Ns MKep Sp MAt dengan materi “Tinjauan Aspek Seksualitas pada Pasien Kanker Reproduksi” dan materi workshop tentang “Management Terapi Palliatif pada Pasien Gangguan Kanker Reproduksi”.

Pendaftaran bisa dilakuakan via transfer ke Rekening BNI 0361827542 atas nama Mukhbit Agung Wibowo (wajib konfirmasi langsung). Segera ikuti dan daftarkan diri Anda sekarang juga di seminar dan workshop Palliatif terupdate dengan narasumber ahli! Pasti seru dan dapat ilmu yang bermanfaat.

Contact person:
Fajar 0813 7361 5778
Abi 0857 6688 7122

1458545900012

Seminar dan Pelatihan Menghadapi MEA di MCC Dihadiri 230 Peserta

Malahayati Career Center (MCC) meyelengkarakan seminar dan pelatihan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Sabtu, 19 Maret 2016. Dengan tema  “Peningkatan mutu dan kulitas mahasisiwa Universitas Malahayati menghadapi dunia kerja Masyaratak Ekonomi Asean”, kegiatan ini dihadiri 230 peserta dari berbagai program study, seperti Kebidanan, Keperawatan, Akuntansi dan Manajemen.

Seminar yang diadakan di Gedung MCC ini dibuka oleh Wakil Rektor III Universitas Malahyati Dr Dessy Hermawan SKep Ns Mkes. “Terimakasih kepada MCC telah menyelenggarakan Seminar dan Pelatihan ini,” ujar Dessy.

Seminar ini menghadiri 4 orang pemateri diantaranya Wakil Direktur Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, Drs Fathurozzi MARS. Dosen Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Iskandar Muda SH MH. Alumni sekaligus perwakilan Palm Oil Industry, Tambat Seprizal SE. Dan juga Ketua program study Psikologi, Octa Reni Setiawati SPsi MPsi Psikolog.

Dengan diadakannya seminar dan pelatihan ini diharapkan mahasisiwa dapat lebih mengasah kemampuan dan potensi, sehingga mampu bersaing didunia kerja khususnya era Masyaratak Ekonomi Asean.

Pendapat Okta Dalam Rangka Memperingati Hari Perawat Nasional

DALAM rangka memperingati Hari Perawat Nasional yang ditetapkan setiap Tanggal 17 Maret adalah hari lahirnya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). PPNI lahir sebagai hasil dari kumpulan perawat-perawat yang menginginkan adanya wadah nasional yang nantinya akan menaungi profesi keperawatan itu sendiri.

PPNI hadir sebagai organisasi yang bertujuan untuk mengatur, mengembangkan dan meningkatkan praktik keperawatan yang aman, kompeten, berkualitas dan profesional bagi masyarakat Indonesia.

Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK), Leni Oktaviani yang akrab disapa Okta ini ikut antusias dengan memasang profil dalam sosial medianya untuk mengingatkan orang lain bahwa pada tanggal 17 Maret sedang memperingati Hari Perawat Nasional.

“Karena di Hari Perawat ini, kita bisa mengevaluasi sudah sejauh mana peran perawat dalam membangun dan menyehatkan bangsa, sejauh mana pula kompetensi kita, kualitas pelayanan kita, dan keprofesionalan kita dalam menyediakan pelayanan keperawatan yang benar-benar komprrehensif bagi masyarakat Indonesia,” kata Okta.

“Akhirnya, semoga di usianya yang ke 42 tahun dari PPNI, semakin baik dalam menaungi semua perawat Indonesia dan Perawat-perawat Indonesia tetap semangat dan selalu berikan yang terbaik,” tambahnya.

17 Maret Dirgahayu Perawat Indonesia

HARI Perawat Nasional yang ditetapkan setiap Tanggal 17 Maret adalah hari lahirnya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). PPNI lahir sebagai hasil dari kumpulan perawat-perawat yang menginginkan adanya wadah nasional yang nantinya akan menaungi profesi keperawatan itu sendiri. PPNI hadir sebagai organisasi yang bertujuan untuk mengatur, mengembangkan dan meningkatkan praktik keperawatan yang aman, kompeten, berkualitas dan profesional bagi masyarakat Indonesia.

PPNI didirikan pada tanggal 17 Maret 1974 yang kepengurusannya terdiri dari : 1 Pengurus Pusat PPNI berkedudukan di Ibu Kota Negara, 32 Pengurus PPNI Propinsi, 362 Pengurus PPNI Kabupaten/Kota dan lebih dari 2500 Pengurus Komisariat (tempat kerja) yang menghimpun ratusan ribu perawat Indonesia baik yang berada di Indonesia maupun di Luar Negeri, saat ini sudah dibentuk INNA-K (Indonesian National Nurses Association in Kuwait). PPNI, sejak Juni 2003 telah menjadi anggota ICN (International Council of Nurses) yang ke 125 dengan visi sebagai corong suara yang kuat bagi komunitas keperawatan dan berkomitmen tinggi untuk memberikan pelayanan/asuhan keperawatan yang kompeten, aman dan bermutu bagi masyarakat luas.

PPNI berperan terhadap pembinaan, pengembangan, dan pengawasan terhadap mutu pendidikan, terhadap pelayanan keperawatan, dan kehidupan profesi. PPNI juga berperan sebagai pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan. PPNI juga berfungsi menetapkan standar pelayanan profesi, standar pendidikan, pelatihan dan pengembangan profesi, serta menetapkan kebijakan profesi.

Meski sebelumnya sudah terbentuk organisasi-organisasi keperawatan, namun secara nasional belum ada organisasi. Berbagai organisasi kecil ini selanjutnya menggabungkan diri dalam bentuk organisasi secara nasional yang kemudian lahirlah PPNI seperti sekarang ini. Di usianya yang bisa dibilang sudah tua, PPNI kini dihadapkan pada masalah perpecahan, di mana satu persatu kelompok mulai memisahkan diri, bahkan menyebut dirinya bukan lagi perawat. Latar belakang pendidikan perawat yang sebelumnya telah mengantarkannya tak mereka hiraukan lagi. Lahirnya undang-undang keperawatan tidak serta merta bisa mengakomodir langgengnya suatu organisasi, justru membuat perawat Indonesia semakin terkotak-kotak.

Pembuat undang-undang seakan tidak mau menilik sejarah tentang keperawatan di Indonesia. Tahun 1990-an ada program bidan desa, di mana para perawat perempuan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK)  dididik selama 1 tahun dalam sekolah PPB (Program Pendidikan Bidan). Ribuan perawat perempuan dididik dalam progam tersebut ntuk memeuhi kebutuhan bidan yang ditempatkan di desa di seluruh pelosok desa di Indonesia. Selanjutnya para perawat perempuan ini bergabung ke induk profesi IBI (Ikatan Bidan Indonesia) dan keluar dari PPNI. Begitu pula issue terakhir para perawat anestesi membentuk organisasi sendiri yang juga keluar dari perawat. Selama ini perawat anestesi berasal dari perawat umum kemudian dikursuskan selama 6 bulan, berlanjut ada D3 Perawat Anestesi, dan sekarang berkembang menjadi D4 Anestesi. Kemudian para perawat anestesi ini menamakan diri Penata Anestesi, dan issue-nya tak mau lagi disebut sebagai seorang perawat meski mereka berangkat dari perawat dan sekolah perawat.

Berbeda dengan induk organisasi dokter, IDI begitu solid meski bidang spesialisasi terus berkembang dan bertambah mereka masih berinduk pada induknya IDI. Adanya persatuan spesialis mata, spesialis obsgyn, spesialis jantung, spesialis bedah dan spesialisasi lainnya mereka tetap menyatu dalam satu induk IDI. Mengapa perawat suka mengotakkan diri? Mirip pepatah kacang lupa kulitnya. Pemerintah dalam hal ini pembuat undang-undang dan kebijakan seakan lupa dengan sejarah, lupa dengan kebijakan pendahulunya bukan menyatukan namun membuat kotak-kotak tersebut. Mungkin inilah perlunya nilai tawar keterlibatan perwakilan organisasi dalam pembuatan undang-undang.

Tak hanya memperingati saja, namun kita benar-benar harus memahami makna peringatan tersebut. Karena di Hari Perawat ini, kita bisa mengevaluasi sudah sejauh mana peran perawat dalam membangun dan menyehatkan bangsa, sejauh mana pula kompetensi kita, kualitas pelayanan kita, dan keprofesionalan kita dalam menyediakan pelayanan keperawatan yang benar-benar komprrehensif bagi masyarakat Indonesia.